• Minggu, 29 Januari 2023

Pematokan Vasum Tanah Makam dan Lapangan Milik Desa Sumberejo oleh PN Kota Malang Ditentang Warga

- Sabtu, 26 November 2022 | 18:49 WIB
Kepala Desa Sumberejo Drs Riyanto (kanan, berpeci hitam) saat diwawancara media.
Kepala Desa Sumberejo Drs Riyanto (kanan, berpeci hitam) saat diwawancara media.

Malang, Jatim Hari Ini - Aksi demonstrasi warga masyarakat Desa Sumberejo Kota Batu untuk mempertahankan aset desa yang berupa makan serta  lapangan villa cerry pada Sabtu (26/11/2022) dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat desa Sumberejo Kota Batu. Dalam aksi tersebut masyarakat menuntut agar rencana pematokan batas tanah oleh pihak Pengadilan Negeri Malang atas tanah fasum yang difungsikan sebagai makam dan lapangan dibatalkan. Serta mengembalikan tanah tersebut kepada masyarakat seperti semula. Kades Sumberejo Drs. Riyanto saat mendampingi warga menjelaskan, jika tanah makam dan lapangan ini sudah ada sejak 1972. Pada 1989 ada PT. Satria pertama berlian bersurat ke Desa Sumberejo memohon tanah tersebut untuk dikelola, dimana tanah ini awalnya adalah tanah egendom. "Dari permohonan tersebut kemudian pada tahun 1990 diterbitkanlah sertifikat atas nama perusahaan, yang kemudian dijaminkan ke bank dan terjadi macet, sehingga akhirnya tanah ini dilelang pada 2005," jelasnya pada jatimhariini.co.id. Dari hasil lelang oleh bank tersebut kemudian dimenangkan oleh seseorang bernama Menik Rahmawati. “Jadi Bu Menik ini saat ini memegang sertifikat yang telah di balik nama atas dasar menang lelang pada 2005,” lanjutnya. "Karena merasa punya hak, akhirnya si pemenang lelang kemudian mengajukan permohonan ke pengadilan, hingga turun surat ke desa yang isinya akan dilakukan pemasangan patok batas atas lahan fasum milik Desa Sumberejo ini," lanjutnya. Ia menjelaskan, jika atas rencana tindakan tersebut, kemudian memicu reaksi masyarakat untuk melakukan perlawanan untuk mempertahankan vasum desa Sumberejo berupa tanah makan dan lapangan sepak bola yang hingga saat ini masih aktif serta digunakan oleh seluruh warga Desa Sumberejo. "Atas munculnya sertifikat hak milik (SHM) no 43 dengan luas 4000 meter persegi pada tahun 1990 ini dari pihak desa menduga ada kejanggalan mengingat vasum berupa tanah makam dan lapangan ini sudah ada sejak 1972. Sedangkan SHM 43 yang terbit baru tahun 1990 dengan pemilik pertama bernama Saidi. Sedangkan Saidi meninggal tahun 1965, dan di tahun 1990 kok bisa kemudian ada peralihan hak jual beli? Ini yang saat ini akan kita tanyakan pada pihak terkait," keluhnya dengan nada kecewa.  Sementara itu dari penelusuran desa pada pihak keluarga ahli waris dari Saidi, memang dibenarkan jika Saidi meninggal pada 1965. “Lalu kenapa tahun 1989-1990 ada transaksi peralihan hak, itu yang menurut kami dan warga janggal,” imbuh kades yang sudah dua periode menjabat ini. Sementara itu, Sumarno salah satu warga Sumberejo yang turut melakukan aksi mengungkapkan jika keinginan warga sebenarnya sederhana, kembalikan tanah makam dan lapangan ini pada warga. Mengingat tanah ini sejak 1964 tanah ini sudah dikuasai warga, sedangkan untuk vasum (termasuk makam dan lapangan) difungsikan dari sejak 1972 jauh sebelum munculnya SHM no 43 tahun 1990. "Dan kedepan, jika apa yang kami pertahankan tidak direspon, kami warga akan menurunkan massa yang lebih besar dan siap perang jika dipaksakan terus termasuk menggalang dana secara  swadaya untuk menempuh jalur hukum guna mempertahankan hak kami sebagai warga desa Sumberejo," pungkasnya.  Sementara itu belum ada tanggapan apapun dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Batu, dan Pengadilan  Negeri (PN) Kota Malang terkait aksi warga Desa Sumberejo saat dihubungi melalui panggil telepon (adi/fit)

Editor: Jatim Hari Ini

Tags

Terkini

X