• Minggu, 24 September 2023

Kasek SMPN 1 Taman Krocok Kepada Peserta Seminar Nasional: Ada Paradigma Baru di Kurikulum Merdeka

- Rabu, 10 Mei 2023 | 10:10 WIB
Mohammad Hairul saat menjadi narasumber dalam seminar nasional pendidikan
Mohammad Hairul saat menjadi narasumber dalam seminar nasional pendidikan

 

Bondowoso, Jatim Hari Ini - Saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional Pendidikan 5.0, dan di hadapan 400 peserta, Mohammad Hairul mengupas berbagai perubahan paradigma yang menyertai implementasi kurikulum merdeka.

Mohammad Hairul adalah Kepala Sekolah Penggerak SMPN 1 TAKRO (Taman Krocok, Bondowoso) yang sekaligus terlibat aktif di program guru penggerak, organisasi penggerak, dan sekolah penggerak tersebut menyampaikan beberapa kajian filosofis dari pemikiran KHD (Ki Hajar Dewantara).

Ia menyebutkan bahwa setiap anak memiliki kodrat alam masing-masing, dan mereka disiapkan guna menghadapi kodrat zaman, menyebabkan pembelajaran harus berdiferensiasi dan pentingnya digitalisasi sekolah.

Baca Juga: Bersama Guru Besar, Kepala SMPN 1 Taman Krocok Menjadi Pembicara Utama Seminar Nasional Universitas Jember

"Pembelajaran harus berpihak pada siswa. Layanan pembelajaran yang sebenarnya adalah menghamba pada sang murid. Memposisikan peserta didik sebagai subjek belajar", ungkap pria yang juga sedang berstatus mahasiswa studi S3 di Universitas Negeri Surabaya ini.

Tentang penilaian pembelajaran atau asesmen, menurut Hairul sudah bukan saatnya penilaian menjadi hal yang menakutkan dan menegangkan. Asesmen mestinya menjadi perayaan bagi siswa untuk menunjukkan progres diri dan hasil belajarnya.

"Melalui perancangan yang baik, maka asesmen merupakan ajang bagi semua pihak untuk menunjukkan bukti nyata pembelajaran. Bahwa siswa belajar, bahwa guru mengajar, bahwa orang tua terlibat, dan sekolah mengapresiasi," tuturnya.

Baca Juga: Rekomendasi 3 Warung Sate Legendaris di Lumajang, Nikmatnya Sampai Pingin Nambah

Kepala sekolah yang juga  dikenal aktif sebagai pegiat literasi dan penulis artikel, buku, karya ilmiah itu juga memaparkan bahwa kata merdeka sebagai nama kurikulum baru itu memiliki implikasi yang luas. Banyak kemerdekaan atau keleluasaan yang diberikan.

"Siswa bisa leluasa dalam belajar sesuai gaya belajarnya. Guru leluasa merancang perangkat mengajarnya sesuai hasil asesmen diagnostik yang dilakukan. Sekolah juga leluasa dalam menentukan bentuk asesmen sesuai dengan orientasi  sekolahnya," tuturnya.

Di akhir sesi seminar, saat moderator menyilahkan penyampaian closing statement, Ketua IKABINA (Ikatan Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) FKIP Universitas Jember itu mengingatkan tentang esensi profesi seorang guru.

"Yang membuat tugas menjadi seorang guru itu berat bukan karena harus menyiapkan materi dan menyusun perangkat pembelajaran. Tetapi, karena menjadi guru itu sejatinya adalah menjadi teman belajar, dan setia mendampingi belajar," tegasnya.***

Editor: Teguh Eko Januari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

MKKS SMK Bondowoso Raih Juara 3 Pawai Mobil Hias

Jumat, 1 September 2023 | 01:13 WIB
X